Merdeka.com - Mendaki gunung kini menjadi tren. Banyak orang ramai-ramai ikut merayakan tahun baru di puncak-puncak gunung. Melihat matahari terbit untuk pertama kalinya bersama lautan awan dari puncak-puncak tertinggi.
Sayangnya banyak orang mendaki tanpa persiapan dan kemampuan teknis yang cukup. Mereka yang bukan pendaki gunung melakukannya sekadar untuk hura-hura. Karena tak paham aturan, seenaknya saja mencoreti batu. Mengukir nama-nama mereka di pohon serta memenuhi gunung dengan sampah. Mendaki gunung masuk kategori olahraga berbahaya. Tapi para pendaki pemula memasabodohkan bahaya. Demi memasang foto-foto di sosial media, mereka pergi ke gunung. Tanpa persiapan, asal-asalan dan seringkali sembrono. Kematian Shizuko Rizmadhani (15) di Gunung Gede Pangrango dan Endang Hidayat (53) di Semeru bukti taruhan mendaki gunung adalah nyawa.
Berikut kebodohan para pendaki pemula yang sering membuat mereka celaka dan meninggal di gunung. Semoga semua sadar, naik gunung jauh lebih bahaya daripada pergi ke mall.
Artikel dan Puisi
Rabu, 15 Januari 2014
Kamis, 02 Mei 2013
Senin, 26 November 2012
Cantik Alami Luar Dalam
Pernahkah Anda memikirkan seberapa besar pengaruh makanan pada kecantikan? Menurut David Wolfie, penurus buku “Eating For Beauty”,
makanan yang tepat tidak hanya membantu mempertahankan keremajaan kulit
dan membuat awet muda, tapi juga mampu membuat seseorang nampak cantik
dan menarik. Makanan yang dimaksud Wolfie tersebut ternyata adalah
makanan yang dimakan dalam kondisi mentah/tidak dimasak (row food). Makanan mentah tersebut baik untuk menjaga kesehatan kulit, rambut dan kuku.
Indonesia Diusulkan Jadi Tujuan Wisata Dunia
DENPASAR - Perkembangan sektor pariwisata memberi
dampak positif bagi perekonomian di Tanah Air. Ini mendorong banyak
pihak untuk mengusulkan Indonesia menjadi tujuan wisata dunia seperti
halnya Inggris, Liberia, dan Tunisia.
Salah seorang yang
mengusulkan Indonesia jadi destinasi dunia adalah Direktur ILO Indonesia
Peter Van Rooij. "Kami usulkan Indonesia menjadi tujuan pariwisata
internasional untuk menyukseskan program Milenium Development Goals
(MDGs)," katanya di sela Konferensi Pariwisata Berkelanjutan di Holiday
Inn Hotel, Kuta, Bali, Kamis (13/9/2012).
Konflik Gaza Mengguncang Dunia
Jakarta, GATRAnews - Peperangan Israel dan Palestina
di Jalur Gaza dalam sepekan terakhir tidak saja menimbulkan banyak
korban jiwa, tapi juga mengguncang ekonomi dunia. Indikasinya, hari ini
harga minyak di pasar internasional sudah mulai naik di saat
perekonomian global belum pulih dari resesi.
Diprediksi, kelangkaan minyak akan terjadi permintaan pasar bakal meningkat menjelang musim dingin di AS dan Eropa serta negara-negara lain pada akhir tahun. Ditambah pula muncul seruan dari milisi Hisbullah di Libanon kepada negara-negara Arab agar mengurangi produksi minyak mereka, atau menaikkan harganya di pasar dunia.
Diprediksi, kelangkaan minyak akan terjadi permintaan pasar bakal meningkat menjelang musim dingin di AS dan Eropa serta negara-negara lain pada akhir tahun. Ditambah pula muncul seruan dari milisi Hisbullah di Libanon kepada negara-negara Arab agar mengurangi produksi minyak mereka, atau menaikkan harganya di pasar dunia.
Indonesia Jadi Target Perusahaan IT Amerika
TEMPO.CO, Jakarta – Epicor Software Corporation, penyedia solusi peranti
lunak bisnis asal California, Amerika Serikat, mengumumkan rencana
peningkatan investasi di Indonesia. Langkah itu dilakukan untuk menjawab
permintaan yang terus meningkat dari perusahaan manufaktur lokal,
termasuk perusahaan otomotif, industri berat, industri berbasis metal,
serta sektor-sektor perlengkapan modal.
Twitter Kembangkan Fitur Mirip Instagram
TEMPO.CO, California – Setelah gagal
mengakuisisi Instagram, Twitter akhirnya berupaya mengembangkan sendiri
aplikasi edit foto dengan konsep yang sama.
Dikutip dari The New York Times, Senin, 5 November 2012, seorang narasumber menyatakan bahwa setelah upaya membeli Instagram gagal, Jack Dorsey, pendiri dan Chairman Twitter serta Dick Costolo, CEO twitter, memimpin pencarian perusahaan seperti Instagram yang bisa diakuisisi. Namun mereka menemukan bahwa harga yang ditawarkan tidak seimbang dengan hasil yang bisa didapat Twitter. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengembangkan sendiri aplikasi tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
